Selasa, 02 Agustus 2011

KONSEP-KONSEP POKOK PENELITIAN FENOMENALOGI

2.1 Metodologi dan Metode Penelitian Pada Fenomenalogi
Metodologi yang merupakan penjelasan-penjelasan metode yang menyediakan dasar-dasar kerja filosofis bagi sebuah metode. Menetapkan posisi metodologi sama artinya dengan mendeskripsikan paradigma atau cara pandang terhadap realistis.
Pagi penganut positivistic, esensi metodologi adalah fakta sebagai objek real. Sementara bagi fenomenalogi, dunia itu salah satu makna yang direkontruksi secara intersubjektif. Dalam fenomenalogi yang mengalami pengalaman seseorang menurut dirinya sendiri-metode penelitian yang digunakan adalah metode filsafat. Metode ini mencakup analisis konseptual, analisis linguistic, metode heurmeneutik dan praksis, metode kritis historis, filsafat literature, dan logika formal. Metode-metode tersebut mendasari beberapa aspek pendekatan kualitatif dalam ilmu pengetahuan
Pemahaman metodologi ini, membawa kita pada hal mendasar mengenai asumsi-asumsi Metodologis dari fenomenalogi. Hal ini penting untuk menentukan metode penelitian seperti apa yang cocok nantinya. Fenomenalogi bertujuan untuk mengetahui dunia dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung atau berkaitan dengan sifat-sifat alami pengalaman manusia, dan maksa yang ditempelkann padanya. Dengan demikian peneliti fenomenalogi harus menunda proses penyimpulan mengenai sebuah fenomena, dengan menempatkan tersebut terlebih dahulu dalam tanda kurung. Atau dengan kata lain mempertanyakan dan meneliti terlebih dahulu fenomena yang tampak, dengan mempertimbangkan aspek kesadaran yang ada padanya.
Konsekwensinya dari hal tersebut di atas, fenomenalogi sebagai metode penelitian tidak menggunakan hipotesis dalam prosesnya, walaupun fenomenalogi bisa jadi menghasilkan sebuah hipotesis untuk diuji lebih lanjut. Selain itu, fenomenalogi tidak diawali dan tidak bertujuan untuk menguji teori. Jadi praktiknya, fenomenalogi cendrung menggunakan metode observasi, wawancara mendalam (kualitatif), dan analisis dokumen dengan metode hermeneutic
2.2 Pendekatan Kualitatf Penelitian Fenomenalogis
Pada dasarnya fenomenalogi cendrung untuk menggunakan paradigma penelitian kualitatif sebagai landasan metodologinya. Berikut ini perlu diuraikan sifat-sifat dasar penelitian kualitatif yang relevan menggambarkan posisi metodologis dan membedakannya dari penelitian kuantitatif
1. Menggali nilai-nilai dalam pengalaman dan kehidupan manusia
2. Fokus penelitian adalah pada keseluruhan, bukan pada perbagian yang membentuk keseluruhan itu.
3. Tujuan penelitian adalah menemukan makna dan hakikat dari pengalaman, bukan sekedar mencari penjelasan atau mencari ukuran-ukuran realitas
4. Memperoleh gambaran kehidupan dari sudut orang pertama, melalui wawancara formal dan informal.
5. Data yang diperoleh adalah dasar bagi pengetahuan ilmiah untuk memahami perilaku manusia
6. Pertanyaan yang dibuat mereflesikan kepentingan, keterlibatan dan komitmen pribadi dari peneliti.
7. Melihat pengalaman dan prilaku sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik itu kesatuan antara subjek dan objek, maupun antara bagian dan keseluruhannya.
Sifat-sifat penelitian kualitatif, akan sejalan dengan ciri-ciri penelitian fenomenalogi berikut ini:
1. Fokus pada sesuatu yang tampak, kembali kepada yang sebenarnya (esensi) keluar dari rutinitas, dan keluar dari apa diyakini sebagai kebenaran dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari
2. Fenomenalogi tertarik dengan keseluruhan, dengan mengamati entitas dari berbagai sudut pandang dan perspektif, sampai didapat pandangan esensi dari pengalaman atau fenomena yang diamati.
3. Fenomenalogi mencari makna dan hakikat dari penampakan, dengan intuisi dan refleksi dalam tindakan sadar melalui pengalaman. Makna ini yang pada akhirnya membawa kepada ide, konsep, penelaian dan pemahaman yang hakiki.
4. Fenomenologi mendeskripsikan pengalaman. Sebuah deskripsi fenomenalogi akan sangat dekat dengan kealamiahan (Tekstur, kualitas, dan sifat-sifat penunjang) dari suatu. Sehingga deskripsi akan mempertahankan fenomena itu seperti apa adanya, dan menonjolkan sifat alamiah dan makna dibaliknya.
5. Fenomenalogi berakar pada pertanyaan-pertanyaan yang langsung berhubungan dengan makna dari fenomena yang diamati. Dengan demikian peneliti fenomenalogi akan sangat dekat dengan fenomena yang diamati. Analoginya peneliti itu menjadi salah satu bagian Puzzle dari sebuah kisah biografi
6. Integrasi dari subjek dan objek. Persepsi peneliti akan sebanding/sama dengan apa yang dilihatnya/didengarnya. Pengalaman akan suatu tindakan akan membuat objek menjadi subjek, dan subjek menjadi objeks
7. Investigasi yang dilakukan dalam rangka intersubjektif, realitas adalah salah satu bagian dari proses keseluruhan
8. Data yang diperoleh (melalui berpikir, intuisi, refleksi, dan penilaian) menjadi bukti-bukti utama dalam pengetahuan ilmiah.
9. Pertanyaan-pertanyaan penelitian harus dirumuskan dengan sangat hati-hati. Setiap kata harus dipilih, dimana kata yang terpilih adalah kata yang paling utama, sehingga menunjukan makna yang utama pula.
Dengan demikian, jelaslah bahwa fenomenalogi sangat relevan menggunakan penelitian kualitatif ketimbang penelitian kuantitatif, dalam menggunakan realitas.
2.3 Penerapan Fenomenalogi
Menurut Orleans, fenomenalogi secara mendasar digunakan dalam dua hal penting dalam ilmu sosial. Kedua hal tersebut adalah:
1. Untuk menteorikan masalah sosiologi yang substansial
2. Untuk meningkatkan kecukupan metode penelitian sosiologis
Dengan demikian, fenomenologis sebagai suatu sebuah metode penelitian menawarkan sebuah koreksi terhadap tekanan positivistic pada konseptualisasi dan metode penelitian, khususnya dalam ilmu sosial (termasuk ilmu komunikasi).
Sejalan dengan Orleans, Collin mengatakan fenomenologi dapat mengungkapkan objek secara meyakinkan, meskipun objek itu berupa objek kognitif maupun tindakan dan ucapan. Fenomenologi dapat melakukannya, karena segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia selalu melibatkan proses mental. Dengan demikian fenomenologi dapat diterapkan pada semua aspek kehidupan manusia.
Menurut pendapat Darroch dan Silver, penelitian fenomenologi berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial konvensional yang lainnya. Penelitian fenomenalogi lebih banyak dilakukan pada tingkat metasosiologis, dengan menunjukan premis-premisnya melalui analis deskriptif dari prosedur situasional dan bangunan sosialnya. Fenomenalogi berusaha memahami pemahaman informan terhadap fenomena yang muncul dalam kesadarannya. Fenomena yang dialami informan adalah entitas sesuatu yang ada di dalam dunia.
Menurut Scheglof dan Sacks, dalam melakukan melakukan penelitian fenomenalogi, tugas peneliti adalah merekam kondisi sosial, sehingga memungkinkan sehingga memungkinkan pendemonstrasian cara-cara yang dilakukan informan. Pada saat inilah peneliti membuat interpretasi tentang makna perbuatan dan pikiran mereka akan struktur dan keadaan. Analisis terhadap tindakan informan ini merupakan teknik yang sering digunakan fenomenalogi untuk menggambarkan bagaimana manusia berpikir tentang dirinya sendiri melalui pembicaraan mereka berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan demikian analisis fenomenalogi mempunyai prosedur yang sifatnya individual.
Berikut akan dikemukakan tahapan-tahapan penelitian fenomenalogi transedental dari Husserl:
a. Epoche
Epoche berarti “ menjauh dari”dan “ tidak memberikan suara”. Husserl menggunakan metode epoche untuk term bebas dari prasangka. Dengan metode Epoche, kita menyampingkan penilaian, bias, dan pertimbangan awal yang kita miliki terhadap suatu objek. Dengan kata lain, epoche adalah pemutusan hubungan dengan pengalaman dan pengetahuan, yang kita miliki sebelumnya.
Dalam melakukan penelitian fenomenologi, epoche ini mutlak harus ada. Terutama ketika menempatkan fenomena dalam tanda kurung ( Bracketing methods). Memisahkan fenomena dari keseharian dan unsure-unsur fisiknya, dan ketika mengeluarkannya “ kemurnian” yang ada padanya. Jadi epoche adalah untuk melihat dan menjadi, sebuah sikap mental yang bebas.
b. Reduksi Fenomenalogi
Tugas dari reduksi fenomenalogi adalah menjelaskan dalan susunan bahasa bagaimana objek iu terlihat. Tidak hanya dalam term objek secara eksternal, namun juga kesadaran dalam tindakan internal, pengalaman, ritme, dan hubungan antara fenomena dengan “ aku”, sebagai subjek yang diamati. Fokusnya terletak pada kualitas dari pengalaman, sedangkan tantangannya ada pemenuhan sifat-sifat alamiah dan makna dari pengalaman. Dengan demikian proses ini terjadi lebih dari satu kali.
Reduksi akan membawa kita kembali pada bagaimana kita mengalami sesuatu (leads us back to our own experience of the thins are). Memunculkan kembali penelian/ asumsi awal, dan mengembalikan sifat-sifat alamiahnya. Reduksi fenomenologi tidak hanya sebagai cara untuk melihat, namun juga cara untuk mendengar suatu fenomena dengan kesadaran dan hati-hati. Singkatnya reduksi adalah cara untuk melihat dan mendengar fenomena dalam tekstur dan makna aslinya
c. Variasi Imajinasi
Dalam penelitian fenomenologi, setelah reduksi fenomenologi adalah variasi imajinasi. Tugas dari variasi imajinasi adalah mencari makna-makna yang mungkin dengan memanfaatkan imajinasi, kerangka rujukan, pemisahan dan pembalikan, dan pendekatan terhadap fenomena dari perspektif, posisi, peranan, dan fungsi yang berbeda. Tujuannya tidak lain untuk mencapai deskripsi struktural dari sebuah pengalaman (bagaimana fenomena berbicara mengenai dirinya). Dengan kata lain menjelaskan struktur esensial dari fenomena.
d. Sintesis Makna dan Esensi
Tahap terakhir dalam penelitian fenomenologi transcendental adalah integrasi intuitif dasar-dasar deskripsi tekstural dan struktural ke dalam satu pertanyaan yang menggambarkan hakikat fenomena secara keseluruhan. Dengan demikian tahap ini adalah tahap penegakan pengetahuan mengenai hakikat.
Menurut Husserl, esensi adalah suatu yang umum dan berlaku universal, kondisi atau kualitas yang menjadikan sesuatu. Sedangkan menurut Sartre, esensi adalah rangkaian yang sangat penting, rangkaian yang saling jalin menjalin dari penampakan.
2.4 Penggunaan Teori dalam Penelitian Fenomenalogi
Fenomenalogi pada dasarnya berprinsip a priori, sehingga tidak diawali dan didasari oleh teori tertentu. Penelitian fenomenalogi justru berangkat dari perspektif filasafat, mengenai “apa” yang diamati, dan bagaimana cara mengamatinya. Adapun premis-premis dasar yang digunakan dalam penelitian fenomenalogi adalah sebagai berikut:
1. Sebuah peristiwa akan berarti mereka yang mengalaminya secara langsung.
2. Pemahaman objektif oleh pengalaman subjektif
3. Pengalaman manusia terdapat dalam struktur pengalaman itu sendiri tidak direkontruksi oleh peneliti.
2.5. Tahapan-Tahapan Penelitian Fenomenalogi
Berikut adalah tahapan-tahapan dalam penelitian Fenomenalogi:
a. Tahapan perencanaan
• Membuat daftar pertanyaan
• Menjelaskan latar belakang penelitian
• Memilih informan
• Telaah Dokumen
Berikut salah satu contoh format proposal penelitian fenomenalogi dari Creswell
a. Pendahuluan
1. Perumusan masalah
2. Tujuan Penelitian
3. Pertanyaan besar penelitian dan pertanyaan penelitian (yang lebih mendetail)
4. Definisi-definisi konsep dalam penelitian
5. Ada tidaknya pembatasan penelitian
b. Prosedur Penelitian
1. Asumsi dasar dan rasionalitas rancangan penelitian yang digunakan
2. Ciri-ciri rancangan penelitian yang digunakan
3. Peranan peneliti dalam penelitian.
4. Prosedur pengumpulan data
5. Metode pemeriksaan (validasi) data.
6. Hasil penelitian yang diharapkan, dan bagaimana hubungannya dengan teori dan literature yang ada
2.6 Tahap Pengumpulan Data
Menurut Creswell (Perluasan dari konsep-konsep Moustakas), teknik pengumpulan data dalam penelitian fenomenalogi adalah:
1. Wawancara mendalam
2. Refleksi diri
3. Gambaran realitas di luar konteks penelitian. Misalnya dalam novel, puisi, lukisan dan tarian
2.7 Prinsip dasar dan Etika Penelitian Fenomenalogi.
Berikut penjelasannya:
1. Membangun kesepakatan yang jelas dengan informan
2. Mengenali dengan jelas, data yang harus dirahasiakan dan data yang dapat dipublikasikan.
3. Membangun prosedur yang tepat agar tujuan, sifat alamiah, dan keperluan penelitian tergambar dengan jelas.
4. Menekankan kepada informan bahwa penelitian bisa jadi sangat luas, lama, dan tidak terbatas, dengan teknik pengumpulan data yang berganti-ganti. Misalnya menggunakan teknik penelitian wawacara dan mengisi kuisioner secara bergantian.
5. Mengijinkan informan untuk memberikan masukan dan ide, demi kenyamanan informan, dan kelengkapan penelitian
6. Mengijinkan informan untuk berhenti terlibat dalam penelitian, walaupun itu tengah-tengah penelitian
7. Menyediakan informasi yang lengkap mengenai tujuan dan sifat alamiah penelitian, termasuk jenis data yang dicari, dan cara pemilihan informan
8. Menyediakan informasi selama proses pengolahan data. Jadi informan juga memiliki akses terhadap selama penelitian berlangsung
9. Mempertimbangkan resika yang mungkin dihadapi berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental informan selama penelitian berlangsung
10. Membuka diskusi selama penelitian berlangsung, baik ketika perencanaan penelitian maupun ketika pengolahan data.
11. Tidak mempublikasikan informasi yang sifatnya rahasia pribadi kepada informan
12. Menekankan pada informan, bahwa informasi yang mereka berikan sangat penting bagi penelitian dan ilmu pengetahuan secara umum
13. Selalu konfirmasi dengan informa, sehingga tetap asli dan akurat.
14. Memberikan alternartif data yang berhibingan dengan data yang diberikan informan, sebagai bahan referensi informan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar