Sabtu, 04 Desember 2010

MAKNA LUKISAN-LUKISAN YANG DI GAMBAR DI DINDING-DINDING GUA ( HASIL KEBUDAYAAN PRASEJARAH)

Dalam perkembangannya, hasil kebudayaan yang diciptakan oleh manusia pasti akan mengalami suatu perubahan yang akan dilalui secara bertahap baik hasil kebudayaan yang bersifat meteri (artefak) maupun bersifat non material berupa (pola-pikir manusia). Secara umum yang paling dominant sering mengalami perubahan itu ialah pola pikir ( minds sett ) manusia yang menjalani kebudayaan tersebut, Kenapa saya berani berargumen seperti itu ? karena memang betul yang sering mengalami perubahan secara cepat itu ialah pola pikir manusia itu dibandingkan dengan hasil budaya yang berupa material, Bukan berarti hasil budaya yang berupa material tidak mengalami perubahan, tetapi proses untuk berubahnya itu sangatlah lambat sekali. Kita tahu bahwa pangkal dari perubahan material tersebut pasti hasil dari perubahan pola pikir manusia itu sendiri.
Saya sangat tertarik membahas bagaimana pola pikir manusia pada zaman prasejarah dengan menelaah hasil budayanya yang berupa karya seni seperti lukisan-lukisan yang dibuat di dinding –dinding gua. Dalam memahami hal ini, saya akan menggunakan teori yang diungkapkan C.A Van Puersen tentang tahapan-tahapan pola pikir manusia tentang hasil kebudayaan, meliputi :
- Tahapan mitis dimana hasil kebudayaan tersebut dipandang oleh mereka sebagai hal yang gaib (tidak bisa jamah oleh logika) bersifat Irrasional
- Tahapan Ontologis, dimana mulai menemukan titik kesadaran tentang hal yang dianggap mereka mitis (gaib)
- Tahapan fungsional, dimana manusia sudah mengetahui bagaimana fungsi praktis dari hasil kebudayaan yang mereka buat.

Ketika manusia pada zaman prasejarah sudah mulai menetap di gua-gua dan tidak lagi nomaden, mereka mempunyai kebiasaan membuat lukisan-lukisan dan goresan-goresan tangan di dinding gua,yang menggambarkan seuatu pengalaman, perjuangan dan harapan hidup. Lukisan-lukisan ini dibuat dengan cara mengores pada dinding-dinding karang atau gua, atau dengan mempergunakan bahan-bahan cat yang berwarna merah, hitam atau putih. Mari kita elaah bagaimana lukisan-lukisan dilihat dari aspek :
A. MITIS
Dalam kenyataannya lukisan-lukisan yang digambarkan di dinding-dinding gua tersebut ada hubungannya dengan kepercayaan terhadap roh nenek moyang, hal ini disesuaikan dengan corak lukisan yang dibuat..
Disini saya akan memberikan contoh lukisan-lukisan yang dibuat di dinding-dinding gua dan menjelaskan apa yang menjadi aspek kemitisannya:
1. Lukisan Kadal di Iya Pulau Seram
Lukisan kadal mempunyai aspek kemistisan yaitu sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku. Selain lukisan kadal ditemukan juga lukisan orang ,lukisan ini dianggap mengandung kekuatan magis, sebagai penolak roh jahat atau gambar nenek moyang, karena tubuh manusia diaanggap mengandung kekuatan magis. Pada masa tradisional , gambar orang atau bagian tertentu dari tubuh manusia ditemukan pada beberapa sarkofagus di Bali, pada peti mayat di Sumatra timur, waruga di Minahasa, kalamba di tanah Toraja, di Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumbawa dan Sumba.Disamping itu, gambar-gambar wajah-wajah orang ditemukan juga di Pejeng (Bali), dan pada kapak upacara dari Makasar.
2. Lukisan Perahu di Pulau Seram dan Irian Jaya
Barang kali ini lukisan dimaksudkan sebagai perahu bagi roh nenek- moyang dalam perjalanannya ke alam baka. Kemudian gambar-gambar semacam ini ditemukan diantara lukisan-lukisan lainnya pada nekara-nekara perunggu. Selain itu juga ada pula lukisan orang dengan perisai yang mungkin dianggap sebagai sumber kekuatan magis dan penolak segala kekuatan jahat. Lukisan-lukisan perang ditemukan juga barangkali dianggap sebagai peringatan bagi masyarakat dalam mempertahankan diri terhadap gangguan-gangguan atau serangan dari luar.
Hasil budaya manusia pada zaman prasejarah yang berupa lukisan mempunyai makna tersendiri bagi manusia pada zaman itu, kalau dilihat dari aspek kemitisan lukisan-lukisan tersebut mempunyai ragam pemaknaannya, biasanya pemaknaannya dihubungkankan dengan kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau juga hal yang diaanggap gaib.
Pada tahap selanjutnya manusia akan menyadari mengapa mereka percaya terhadap hal yuang gaib, tahap ini dinamakan tahap ontologis.
B. TAHAP ONTOLOGIS
Apabila kita lihat pada aspek ontologis ini, manusia zaman itu menyadari bahwa lukisan pada dinding-dinding gua merupakan suatu gambaran dimana mereka mencurahkan pengalaman, perjuangan dan harapan hidup mereka. Sebenarnya lukisan yang dibuat itu merupakan gambaran sosial ekonomis manusia pada zaman itu . Sumber inspirasi dari lukisan-lukisan ini adalah cara hidup mereka yang serba tergantung pada alam lingkungannya, yaitu hidup berburu dan mengumpulkan makanan. Maka dengan demikian pada tahap ontologis ini manusia sadar dengan kemampuan mereka meluapkan ide, gagasan pada media dinding-dinding gua untuk melukiskan pengalaman,perjuangan, dan cara hidup mereka yang masih tergantung pada alam.
Tahap selanjutnya manusia akan menyadari bagaimana fungsi dari kebudayaan yang dihasilkannya. Tahap ini disebut tahap fungsional


C. Tahap Fungsional
Lukisan yang digambarkan di dinding-dinding gua itu mempunyai fungsi yaitu sebagai karya seni yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Lukisan ini tidak mempunyai nilai guna yang praktis , tetapi mempunyai nilai keindahan yang mungkin pada zaman itu merupakan hasil karya yang luar biasa. Sebenarnya manusia pada zaman itu sadar bahwa lukisan yang di buatnya yaitu untuk menghiasai dinding gua yang dianggap indah untuk dilihat. Jadi lukisan itu mempunyai fungsi sebagai hiasan dinding.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar